page

Thursday, June 14, 2012

Manusia Sama Di Sisi Allah...

Seorang pakar motivasi mengeluarkan wang RM100 dan bertanya siapa yang mahukan wang tersebut, ternyata ramai yang berminat memilikinya. Kemudian dia merenyukkan wang tersebut dan bertanya lagi, masih lagi ramai yang menginginkan wang tersebut. Setelah itu dia memijak denga kasutnya hingga wang tersebut lusuh dan kotor. Kemudian dia bertanya ,masih adakah  yang mahukan wang tersebut. Ternyata masih ramai yang mahukan wang tersebut.



Pengajarannya adalah walau wang tersebut renyuk, kotor dan lusuh tetapi nilainya masih RM100, tidak berkurang pun. Dalam kehidupan kita berapa kali kita terjatuh, tersungkur dan terkoyak hati akibat tersilap percaturan dalam hidup. Apabila tersilap langkah dan melakukan kesilapan kita akan rasa diri amat hina dan tak berharga.

Padahal sebenarnya kita tetap masih bernilai dan sama nilainya bagi mereka yang menyintai dan menyayangi kita. Apabila berbuat dosa segeralah meminta ampun pada yang Esa kerana pintu taubat sentiasa terbuka selagi kita mahu dan ikhlas bertaubat. Sayangilah diri kita kerana semua insan sama saja di sisi Allah yang membezakannya adalah KETAQWAAN kepadaNya saja.

Monday, November 21, 2011

Tak Sabar Nak Balik Kampung

1,2,3 .......  hitung hari dan masa, lagi brapa hari utk pulang ke kampung hu3. Muke bersinar2, tak sabar nak balik kampung. Tak sabar nak tengok keindahan disana. Emak, Ayah, Ayam, Itik, Kucing, ..... rindu sangat nak makan NASI KERABU.... Tunggu kepulangan ku haha.....

Friday, August 19, 2011

Kisah Sepotong Hati^

Dalam kisah tersebut diceritakan demikian :

Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah yang ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu. Pemuda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah.

Tapi tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata “Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku?”.
Lalu, kerumunan orang-orang dan pemuda itu  melihat pada hati pak tua itu.

Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ; namun tidak benar-benar pas dan ada sisi-sisi potongan yang tidak rata. Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang itu tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah?

Pemuda itu melihat kepada pak tua itu, memperhatikan hati yang dimilikinya dan tertawa “Anda pasti bercanda, pak tua” katanya, “bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna sedangkan hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan”.  “Ya”, kata pak tua itu, ” hatimu kelihatan sangat sempurna meski demikian aku tak akan menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka, dan seringkali mereka juga memberikan sesobek hati mereka untuk menutup kembali sobekan yang kuberikan. Namun karena setiap sobekan itu tidaklah sama, ada bagian-bagian yang kasar, yang sangat aku hargai, karena itu mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan. Adakalanya, aku memberikan potongan hatiku begitu saja dan orang yang kuberi itu tidak membalas dengan memberikan potongan hatinya. Hal itulah yang meninggalkan lubang-lubang sobekan – memberikan cinta kasih adalah suatu kesempatan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan, mereka tetap terbuka, hal itu mengingatkanku akan cinta kasihku pada orang-orang itu, dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang-lubang itu.
“Sekarang, tahukah engkau keindahan hati yang sesungguhnya itu ?” 

Pemuda itu berdiri membisu dan airmata mulai mengalir di pipinya. Dia berjalan ke arah pak tua itu, menggapai hatinya yang begitu muda dan indah, dan merobeknya sepotong.
Pemuda itu memberikan robekan hatinya kepada pak tua dengan tangan-tangan yang gemetar. Pak tua itu menerima pemberian itu, menaruhnya di hatinya dan kemudian mengambil sesobek dari  hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka, kemudian menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu.

Sobekan itu tertampal, tetapi tidak sempurna, karena ada sisi-sisi yang tidak sama rata. Pemuda itu melihat kedalam hatinya, yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, karena cinta kasih dari pak tua itu telah mengalir kedalamnya.
Mereka berdua kemudian berpelukan dan berjalan beriringan.
Semoga bermanfa’at dan memberi inspirasi.

Sunday, August 7, 2011

Kisah Sebiji EpaL

Al-kisah, Abu Salih Jangi Dost, seorang pemuda yang sangat kuat taqwanya sedang duduk ditebing sungai, apabila dilihatnya sebiji buah epal terapung dipermukaan sungai. Beliau mencapai buah epal itu lalu memakannya. Selesai makan beliau tersedar dan berkata dalam hati,
 “Kemungkinan buah epal ini ada tuannya. Aku telah memakannya tanpa izin pemiliknya. Aku kena cari pemiliknya  Minta halal”
Beliau mudik kehulu sungai. Setelah lama berjalan kelihatan sebuah rumah dengan kebun buah epal ditepi sungai. kelihatan sabatang pokok epal condong ke arah sungai. Hatinya berbisik,
 “Kemungkinan buah epal yang aku makan tadi adalah dari pokok ini”. Lalu beliau berjumpa tuan punya kebun. Tuan punya kebun itu adalah Shaikh Abdullah Sawma’I.
Setelah memberi salam…berkatalah Abu Salih : Tuan, saya telah makan buah epal dari kebun tuan, yang mudik ke hilir sungai. Saya minta halal.!
Shaikh Sawma’I : (merenung wajah pemuda itu dengan tajam) Aku akan mema’afkan jika kamu memenuhi permintaan aku.
Abu Salih : Apa permintaan tuan?
Shaikh Sawma’I : Kamu kena bekerja dengan aku selama 2 tahun!
Abu Salih : setuju. Insya Allah tuan. Saya akan bekerja dengan tuan sebagaimana tuan kehendaki.!
Abu Salih adalah seorang hamba Allah yang wara’ dan sangat kuat taqwanya. Beliau tak mahu sesuatu makanan yang tidak halal mengisi perutnya.
Setelah berkhidmat selama 2 tahun… pada hari terakhir Abu Salih meminta izin untuk pulang.
Shaikh Sawma’I : Aku akan halalkan jika kamu berkhidmat selama 2 tahun lagi.
Abu Salih : Baiklah saya akan berkhidmat sebagaimana tuan kehendaki!
Setelah selesai 2 tahun lagi berkhidmat, Abu Salih mohon izin pulang.
Shaikh Sawma’I : Aku akan halalkan jika kamu setuju mengahwini anak aku! Tetapi keadaan dia buta, bisu dan kudung! Sudikah kamu memenuhi syarat terakhir ku ini?
Abu Salih : (agak lama termenung…. jika buta dan bisu boleh lagi tetapi kudung pulak… macamana aku nak hidup dengan wanita seperti ini… hati kecilnya berbisik! Tetapi beliau teringat akan tebusan nya kerana memakan sebiji epal dan janjinya kepada Shaikh Sawma’I, maka akhirnya beliau pun setuju dengan tidak sedikitpun kekesalan)
Akhir Abu Salih berkahwin dengan puteri yang buta, bisu dan kudung
Hari perkahwinan tiba! Setelah selesai ‘aqad nikah, pengantin lelaki Abu Salih dibawa berjumpa dengan pengantin perempuan.
Sebaik saja masuk ke bilik pengantin perempuan, dilihatnya seorang wanita yang sangat cantik berseri-seri wajahnya. Matanya yang bersinar2 menunjukkan dia bukan buta! Kaki dan tangannya sangat sempurna.
Maka terkejutlah Abu Salih, kerana wanita itu tidak serupa sebagaimana yang digambarkan oleh ayahnya, Shaikh Sawma’I. Dia bukan buta, bukan pekak dan tidak bisu. Dia juga mempunyai anggota badan yang sempurna.! Lalu segeralah dia mendapatkan Mertuanya, Shaikh Sawma’I, inginkah penjelasan!
Shaikh Sawma’I menyambut menantunya dengan penuh senyuman kerana beliau memang sudah menjangka akan kedatangan Abu Salih, inginkan penjelasan!
Shaikh Sawma’I : Aku bersyukur kerana dari awal lagi aku sudah mengetahui engkau adalah seorang yang sangat jujur dan salih. Sebab itu aku telah memutuskan untuk mengahwinkan anak aku dengan engkau.
Abu Salih : Tetapi bukankah Ayahanda menyebut puteri tuan……… (Abu Saleh kehairanan)
Shaikh Sawma’I : Ya benar…!
Aku menyebut puteri aku Ummul Khair Fatimah, buta sebab dia tak pernah melihat lelaki lain selain dari ayahanda dia. Aku menyebut dia pekak sebab dia tak pernah mendengar perkara2 yang haram. Aku menyebut dia bisu kerana dia tak pernah menyebut yang keji2 atau mengumpat orang lain. Aku menyebut dia kudung kerana tangan dan kakinya tak pernah melakukan sesuatu maksiat atau sesuatu yang haram."

Busuknya Kebencian

Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak (TK) mengadakan”permainan”.
Ibu Guru menyuruh tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa....tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.
Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun,selama 1 minggu.
Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk,murid-murid mulai mengeluh,apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.
Ibu Guru : “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1minggu ?”
Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut kemanapun mereka pergi. Gurupun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.
Ibu Guru : “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ? Alangkah tidak nyamannya..”